UI Kembangkan Pengobatan Corona

Ilustrasi UI
Ilustrasi UI
Share

JAKARTA – Seorang peneliti dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Muhamad Sahlan tengah mengembangkan senyawa propolis asli Indonesia yang dihasilkan oleh lebah Tetragonula biroi aff. Propolis ini diyakini dapat menjadi alternatif pengobatan dan pencegahan penyebaran Virus corona atau COVID-19.

Propolis tersebut terbukti memiliki komponen penghambat alami yang dapat digunakan untuk menghasilkan obat dengan efek negatif minimal baik, terhadap tubuh manusia maupun sumber daya alam yang tersedia. Sahlan menuturkan, komposisi propolis tidak selalu sama di seluruh dunia.

Pada penelitian ini, senyawa propolis berasal dari lebah Tetragonula biroi aff. Perlu dipahami bahwa propolis memiliki karakteristik berbeda, tergantung pada sumber tanaman dan lokasinya.

Baca Juga : https://www.jektv.co.id/read/2020/03/05/1049/apotek-enggan-jual-masker-karena-harga-mahal/

“Perbedaan sumber tanaman, lokasi, serta proses penelitiannya akan membedakan pula senyawa-senyawa propolis yang dihasilkan,” ujar Sahlan yang telah sembilan tahun meneliti tentang propolis, dalam keterangannya, Rabu (4/3).

Saat ini beberapa negara tengah mengembangkan obat dan vaksin untuk covid-19. Salah satunya adalah Tiongkok yang mengembangkan obat berdasarkan penelitian yang dipublikasikan oleh Prof dari Shanghai Tech University pada Januari 2020.

Pada penelitiannya, Prof tersebut berhasil memetakan struktur protein Corona virus. Dalam penelitian tersebut juga ditemukan bahwa virus corona penyebab covid-19 harus menempel pada sel hidup (dalam hal ini paru-paru manusia) sebelum menyuntikkan struktur genetiknya pada sel hidup tersebut untuk berkembang biak.

Untuk memutus aktivitas ini, dikembangkan senyawa kimia penghambat, bernama N3 sebagai alternatif obat untuk covid-19.

“Yang menarik bagi saya, propolis yang saya teliti ini memiliki sifat menghambat proses menempelnya virus terhadap sel manusia yang mirip dengan senyawa N3,” terang Sahlan

Dengan menggunakan struktur model covid-19 yang ada, senyawa-senyawa propolis diujikan untuk melihat apakah dapat membentuk ikatan pada virus covid-19 bila dibandingkan dengan ikatan senyawa N3.

Baca Juga : https://www.jektv.co.id/read/2020/03/05/1050/virus-corona-merebak-stok-masker-di-kabupaten-bungo-kosong/

Hasil pengujian memperlihatkan, bahwa tiga dari sembilan senyawa yang ada di propolis asli Indonesia memiliki kekuatan menempel yang cukup baik pada virus covid-19. Bila senyawa N3 memiliki nilai -8, senyawa Sulawesins a memiliki nilai -7.9, Sulawesins b (-7.6) dan Deoxypodophyllotoxin (-7.5).

“Jadi, semakin negatif nilai yang dimiliki menunjukkan semakin besar kemampuan senyawa menempel pada virus covid-19. “Hal ini membuat virus tidak dapat menempel pada sel hidup manusia untuk kemudian berkembang biak,” ujar Sahlan tentang hasil pengujiannya.

Menurut Sahlan, hasil penelitian ini tentu saja belum masuk ke dalam tahapan klinis karena Indonesia sendiri baru mengumumkan pasien positif Korona pada Senin, 2 Maret 2020 yang lalu.

Akan tetapi hasil penelitian ini tentu sangat menjanjikan untuk dikembangkan menjadi alternatif obat dari Indonesia yang dapat menyembuhkan maupun mengurangi perkembangan virus Korona. Tidak hanya di Indonesia tetapi juga ke negara lain,” kata Dekan FTUI, Hendri D.S. Budiono.

Saat ini penelitian yang dilakukan oleh Dr. Eng. Muhamad Sahlan, S.Si, M. Eng. dan timnya sedang pada tahap mengenali senyawa-senyawa yang potensial untuk dikembangkan sebagai obat covid-19.

“Tahapan selanjutnya adalah pengoptimasian senyawa-senyawa tersebut sebelum dilakukan uji klinis dan pengembangan obat,” ujarnya.

Sebelumnya, professor dari Universitas Airlangga, Surabaya, Chaerul Anwar Nidom juga membuat pernyataan terkait pencegahan virus corona bisa dengan rajin mengonsumsi jahe, kunyit, dan temulawak. Menrutnya, bahan-bahan alami tersebut merupakan bahan curcumin yang bisa menekan virus corona di dalam tubuh.

“Bahan-bahan curcumin seperti jahe, kunyit, dan temulawak bisa dikonsumsi untuk mencegah virus corona. Terutama untuk menghambat virus corona yang menyebar lewat saluran pernapasan,” terang Nidom yang juga Guru Besar Biologi Molekuler itu.

Nidom menjelaskan, virus corona itu ada dua macam, yang low pathogenic dan high pathogeniclow. Pathogenic dampaknya tidak begitu ganas karena reseptornya berada pada saluran pernafasan atas, berbeda dengan high pathogenic dimana reseptornya berada di paru-paru dan berakibat fatal.

Badai sitokin yang dimaksud Nidom adalah proses biologis dalam paru-paru. Sitokin ini yang membuat virus corona menginfeksi paru-paru dan memperparah orang yang terinfeksi corona.

“Mencegah virus corona bisa dengan lebih banyak konsumsi Curcumin, ini untuk menambah daya tahan tubuh. Konsumsi curcumin pencegahan terbaik dan murah,” tuturnya.(der/fin)

Editor: Ra
Sumber: www.fin.co.id




Pilkada Ditunda, DKPP Awasi Anggaran

  • Kamis, 02/04/2020 08:50:56 WIB
  • Dibaca: 2063

Jakarta – Presiden Joko Widodo telah menunjuk Didik Supriyanto menjadi Anggota DKPP melalui Keputusan Preside...