Diserang Infeksi Baru, Wuhan Sudah Aman

FOTO: NOEL CELIS/AFP TETAP PAKAI MASKER: Warga Wuhan begitu disiplin dalam memerangi Covid-19. Tidak hanya mengenakan masker, setiap penumpang harus menjalani pemeriksaan suhu tubuh saat tiba di stasiun kereta api Hankou di Wuhan, di Provinsi Hubei tengah Cina, kemarin.
FOTO: NOEL CELIS/AFP TETAP PAKAI MASKER: Warga Wuhan begitu disiplin dalam memerangi Covid-19. Tidak hanya mengenakan masker, setiap penumpang harus menjalani pemeriksaan suhu tubuh saat tiba di stasiun kereta api Hankou di Wuhan, di Provinsi Hubei tengah Cina, kemarin.
Share

BEIJING – Secara umum Cina belum stabil. Ini dibuktikan dengan adanya laporan 99 infeksi baru, pada Minggu (12/4). Data ini menunjukan lebih dari dua kali lipat dibandingkan hari sebelumnya, saat jumlah kasus impor harian mencapai rekor, menurut data yang dirilis.

Selain itu, menyoroti sumber risiko utama lainnya, kasus Covid-19 tanpa gejala yang baru saja dilaporkan tercatat hampir dua kali lipat menjadi 63 pada Sabtu, dari 34 dibandingkan dengan satu hari sebelumnya, menurut Komisi Kesehatan Nasional China (NHC).

Hampir seluruh infeksi baru tertinggi sejak 6 Maret, melibatkan pendatang dari luar negeri. Hanya dua dari 99 kasus tersebut yang merupakan kasus penularan lokal. Shanghai, pusat bisnis Cina, mencatatkan lebih dari setengah kasus penularan impor.

Kota tersebut melaporkan 52 kasus baru Covid-19 yakni semua warga Cina yang tiba dari luar negeri. Dari semua kasus baru di Shanghai, 51 di antaranya terkait dengan orang-orang yang berada dalam satu penerbangan dari Rusia pada 10 April.

Kasus ke-52 adalah warga Cina yang tiba di Shanghai usai bepergian dari Kanada. Provinsi Heilongjiang melaporkan 21 kasus impor baru pada 11 April, yang seluruhnya merupakan warga Cina yang tiba dari Rusia. Jumlah total infeksi Covid-19 di Cina daratan kini mencapai 82.052 dengan 3.339 kematian.

Sementara Wuhan, salah satu kota di Provinsi Hubei, relatif stabil. Bukan kemegahan kota dan pertumbuhan ekonominya yang relatif cepat kota itu dikenal, namun makhluk bernama Covid-19 lah yang menjadikan nama Wuhan mengglobal.

Sejak tanggal 23 Januari 2020, Wuhan digambarkan sebagai kota yang paling horor di dunia atas pembingkaian berjatuhannya korban serangan virus corona jenis baru hingga pemenjaraan masyarakat di dalam rumah setelah status lockdown ditetapkan oleh pemerintah pusat di Beijing.

Tidaklah mengherankan jika kemudian masyarakat yang berada di tengah wilayah daratan Cina itu menyambut suka cita mana kala status tersebut dicabut.

Mereka berduyun-duyun di sekitar akses keluar-masuk perbatasan, pagar stasiun, terminal keberangkatan bandar udara, dan portal jalan bebas hambatan beberapa saat sebelum dibuka kembali.

Suasananya kontras dengan 76 hari sebelumnya saat mereka terjebak dalam cekaman di antara bayang-bayang kematian sanak saudara, orang-orang tercinta, petugas medis, aparat keamanan, dan profesi lainnya karena virus tersebut tidak mengenal kasta dan latar belakang seseorang.

Pada hari pertama pembukaan kembali Wuhan itu tercatat 624.300 warga setempat telah menggunakan jasa transportasi umum. Dinas Perhubungan Kota Wuhan menyebutkan pada hari pertama itu terdapat beberapa moda transportasi umum, seperti 346 unit bus, perahu, kereta metro bawah tanah (subway), dan taksi yang beroperasi.

Pemkot Wuhan juga mencatat 52.000 orang juga meninggalkan kota dengan kereta api, pesawat dan bus. Mereka dari berbagai kota di Cina yang terjebak di Wuhan saat krisis Covid-19.

Sesuai jadwal yang tertera di Stasiun Kereta Api Wuhan, kereta jurusan Nanning, Daerah Otonomi Guangxi, merupakan kereta pertama yang berangkat pada hari-H pencabutan lockdown. Qi Shi seorang warga Wuhan, yang sempat menyita perhatian orang-orang yang lewat karena jaket musim dingin (yurongfu) yang dikenakannya ketika Wuhan sudah memasuki musim semi yang hangat.

”Saya tidak membawa apa pun selain dua yurongfu. Siapa yang mengira kalau saya akan terjebak di sini selama lebih dari 80 hari?” ujarnya seperti dikutip Global Times.

Saat terperangkap di Wuhan, pria asal Guizhou itu tidak hanya terbebani masalah finansial, melainkan juga tekanan psikologis yang sangat berat, menganggur dan putus asa dalam isolasi di tengah lingkungan yang sama sekali asing baginya selama dua bulan lebih.

”Saya mengeluh dan mengutuk. Tapi begitu mendengar berita tentang pencabutan ini, hati saya seperti mau keluar dari kerongkongan,” kata Qi yang akhirnya dapat menggendong kembali putranya yang berusia dua tahun.

Dua hari menjelang pencabutan lockdown Wuhan, di Cina dilaporkan tidak ada kasus baru Covid-19 dan tidak ada kematian.

Juru Bicara Komisi Nasional Kesehatan China (NHC), Mi Feng mengatakan Cina masih menghadapi kasus impor sehingga menambah tantangan dan tugas pencegahan serta pengendalian makin sulit.

Terlepas dari itu semua, perekonomian di Wuhan mulai bergeliat, meskipun gejalanya sudah tampak sejak 11 Maret setelah pemerintah pusat mengizinkan beberapa industri kembali beroperasi. Kuliner dan sektor transportasi publik yang paling menikmati masa-masa awal pembukaan kembali Wuhan.

Portal teknologi TechWeb, melaporkan transaksi penjualan makanan siap saji dan jasa transportasi masing-masing mengalami peningkatan 349 persen dan 1.502 persen. Demikian halnya dengan transaksi pembayaran daring via Wechat Pay meningkat 162 persen selama periode 25 Maret-3 April 2020 dibandingkan dengan periode 25 Februari-5 Maret 2020.

Tingkat konsumsi kuliner malam pada 3 April atau masa-masa persiapan pencabutan status lockdown naik hingga 198 persen. Demikian halnya dengan penjualan makanan pagi pada periode tersebut juga mengalami puncaknya dibandingkan dengan 27 Maret.

Cailinji, restoran ikonik berjaringan di Wuhan, dalam 10 hari terakhir menerima 20.000 pesanan.Bahkan platform e-dagang seperti Tmall, Taobao, JD, Sunning, dan Pinduoduo meluncurkan promosi daring untuk membantu pedagang dan petani lokal menjual produknya.

Alibaba sampai-sampai membeli udang senilai 1 miliar yuan (Rp2,24 triliun) dari Provinsi Hubei yang kemudian dijual kepada pelanggannya melalui swalayan produk segar Hema atau platform belanja daring Taobao dan Tmall sebagaimana laporan Cina Daily. (fin/ful)

Penulis: ful
Editor: Ra
Sumber: www.fin.co.id




Prabowo Jadi Ketua Umum Gerindra Lagi

  • Minggu, 09/08/2020 12:14:21 WIB
  • Dibaca: 435

BOGOR- Partai Gerindra kembali memilih Prabowo Subianto menjadi ketua umum untuk periode 2020-2025. Keputusan itu ...