Soal Usul Sistem Skoring Baru, Herry IP: Di Pelantas Sering Digunakan

Pelatih ganda putra Indonesia Herry Iman Pierngadi memberikan instruksi kepada Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto pada semifinal SEA Games 2019 melawan Thailand. (Nafielah Mahmudah/PP PBSI)
Pelatih ganda putra Indonesia Herry Iman Pierngadi memberikan instruksi kepada Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto pada semifinal SEA Games 2019 melawan Thailand. (Nafielah Mahmudah/PP PBSI)
Share

 Presiden Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) Poul-Erik Hoyer Larsen pernah melontarkan usulan terkait rencana perubahan sistem skor pertandingan dari 21 x 3 menjadi 11 x 5.

Hoyer Larsen mengklaim, sistem skor baru akan membuat pertandingan menjadi jauh lebih menarik. Tidak membosankan dan stagnan.

Menanggapi hal itu, pelatih kepala ganda putra PP PBSI Herry Iman Pierngadi mengaku tidak terlalu mempermasalahkan rencana BWF tersebut. Menurut Herry IP, sistem penghitungan poin 11 x 5 kerap dilakukan pada sesi latihan di Pelatnas Cipayung.

“Saat latihan di Pelatnas, sistem poin itu sering kami gunakan. Tapi, rencana BWF ini tak boleh dilihat dari satu sisi. Banyak kepentingan. PBSI ada di bawah BWF, jadi apa pun keputusannya pasti diikuti. Tapi, sebelum itu, tentu harus ada musyawarah. Apakah PBSI setuju atau tidak setuju soal perubahan penghitungan poin,” katanya ketika dihubungi JawaPos.com Senin (27/4).

Meski santai menanggapi wacana itu, Herry IP meminta BWF untuk mempertimbangkan beberapa hal jika ingin menerapkan sistem 11 x 5. Menurutnya, perubahan itu akan berpengaruh pada program latihan.

Dia mengatakan, kunci utama dari sistem poin 11 x 5 ini adalah pemanasan.

“Bagi pemain yang telat panas, sistem poin 11 x 5 itu akan menjadi masalah. Cara mengatasinya mereka harus warming up lama,” jelasnya.

Maksudnya, ucap Herry IP, pemain harus benar-benar siap saat pertandingan dimulai karena jauh lebih singkat jika dibandingkan dengan sistem poin 21 x 3.

Oleh karena itu, BWF dan penyelenggara turnamen wajib menyiapkan lapangan pemanasan. “Untuk turnamen kecil, kadang tidak ada. Itu salah satu faktor yang harus dipikirkan BWF sebelum membuat keputusan. Kadang orang yang menjalani di lapangan yang menemui banyak kendala,” terangnya.

Sebelumnya, Sekjen PP PBSI Achmad Budiharto mengatakan, wacana itu telah mendapat penolakan termasuk PBSI pada pertemuan umum tahunan di Thailand pada 2018.

Ide tersebut, kata Budiharto, tidak mendapat dukungan dari dua pertiga anggota BWF yang hadir dalam pertemuan itu. “Sikap kami hingga sekarang masih sama ya, tetap menolak. Nanti kami coba tanyakan lagi ke para pemain dan pelatih,” ucap Budiharto.

Editor: Ra
Sumber: www.jawapos.com




Jelang Pilkada, KPU Kabupaten Batangari Lakukan Sosialisasi Bersama Pers Batanghari

  • Jumat, 03/07/2020 13:29:45 WIB
  • Dibaca: 520

BATANGHARI - Mendekati pelaksanaan pilkada Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Batanghari giat lakukan sosialisasi peru...