Harga Obat Corona Rp33 Juta

Illustrasi
Share

JAKARTA – Remdesivir, obat pertama yang terbukti efektif menangani pasien Covid-19, akan didistribusikan di Amerika Serikat (AS), di bawah perjanjian luar biasa antara produsen dengan pemerintah. Harga jualnya pun tak biasa.

Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan (HHS) serta produsen obat Gilead Sciences sepakat remdesivir dijual kepada rumah sakit dengan harga 520 dolar AS atau sekitar Rp7,4 juta per botol atau 3.120 dolar, sekitar Rp44 juta, per sekali perawatan.

Sementara ITU, bagi pasien yang mendapat asuransi dari pemerintah, harga per botol 390 dolar AS dan per perawatan 2.340 dolar AS. Obat ini hanya akan dijual di AS sampai September 2020, yang berarti pasien AS akan menerima hampir seluruh hasil produksi Gilead atau lebih dari 500.000 perawatan.

HHS dan otoritas kesehatan negara bagian telah mengalokasikan remdesivir ke rumah sakit pemerintah berdasarkan kebutuhan. Namun setelah September, HHS tidak berhak lagi menentukan ke mana obat dikirim.

“Ini merupakan kebijakan pertama AS. Akses untuk AS dijamin, tapi permintaan di seluruh dunia berpotensi melampaui pasokan,” kata Rena Conti, ekonom perawatan kesehatan di Universitas Boston, dikutip dari The New York Times, Selasa (30/6/2020).

Harga obat itu sedikit di bawah kisaran 2.520-2.800 dolar AS yang disarankan oleh kelompok riset penetapan harga obat AS Institute for Clinical and Economic Review (ICER) pekan lalu.

Hal itu terjadi setelah para peneliti Inggris menemukan deksametason steroid yang murah dan secara signifikan menurunkan angka kematian di antara pasien Covid-19 parah.

Sebelumnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan penggunaan dexamethasone bagi pasien Covid-19 yang dalam kondisi kritis. Hasil uji coba klinis terhadap dexamethasone menunjukkan steroid tersebut mampu menyelamatkan nyawa pasien terinfeksi virus corona yang kritis.

Hasil uji coba menunjukkan, obat yang sudah digunakan sejak 1960-an ini mampu mengurangi potensi kematian hingga sepertiga pada pasien Covid-19 dalam kondisi parah.

Meskipun hasil studi masih pada tahap pendahuluan, para peneliti sudah merekomendasikan penggunaannya sebagai standar dalam menangani pasien Covid-19 kritis.

Belum diketahui berapa harga pasti dexamethasone untuk penanganan Covid-19, namun harga umum obat radang sendi ini diyakini lebih murah dibandingkan remdesivir.

Sementara itu, CEO Gilead Daniel O’Day mengatakan, tak ada patokan mengenai penentuan harga obat tertentu, termasuk remdesivir. Dia tak bisa memastikan berapa harga obat sampai ke pasien. “Tidak ada buku pedoman tentang cara menentukan harga obat barudi saat pandemi,” kata O’Day.

Sejak keluar otorisasi darurat obat, Gilead telah menyumbang remdesivir ke banyak rumah sakit untuk membantu perawatan pasien Covid-19. Pengiriman terakhir dilakukan pada Senin (29/6/2020) dan seterusnya akan dikenakan harga.

Banyak pakar menilai, harga baru ini tidak mahal. Obat pasien terinfeksi virus corona lain masih dalam pengujian tahap akhir, dan harganya lebih mahal dibandingkan remdesivir.

Remdesivir diperkirakan mendapat permintaan tinggi karena satu-satunya pengobatan yang sejauh ini terbukti menghambat Covid-19. Setelah obat yang diberikan lewat pembuluh darah itu membantu rumah sakit mempersingkat waktu pemulihan dalam uji klinis, remdesivir mendapatkan otorisasi penggunaan darurat di Amerika Serikat dan persetujuan penuh di Jepang.

Obat itu diyakini paling efektif dalam mengobati pasien lebih awal daripada deksametason, yang mengurangi kematian pada pasien yang membutuhkan bantuan oksigen dan mereka yang menggunakan ventilator.

Namun, remdesivir dalam formulasinya saat ini, hanya digunakan pada pasien yang cukup sakit sehingga perlu rawat inap pengobatan lima hari. (der/fin)

Penulis: der
Editor: Ra




Pilkada Harus Aman Covid-19

  • Kamis, 06/08/2020 07:25:57 WIB
  • Dibaca: 884

JAKARTA – Pelaksanaan Pilkada Serentak akan digelar pada 9 Desember 2020 m mendatang. Semua persiapan terus d...