WHO: Flu Babi G4 Bukan Virus Baru

Ilustrasi (net)
Ilustrasi (net)
Share

JAKARTA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, bahwa flu babi G4 bukanlah sebuah virus baru. Pernyataan WHO tersebut menyusul temuan peneliti Cina yang mengatakan, bahwa jenis baru dari flu babi yang bisa memicu pandemi.

“Saya pikir, penting untuk meyakinkan masyarakat bahwa ini bukan virus baru, ini adalah virus yang sedang dalam pengawasan,” kata Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO, Dr. Michael Ryan, seperti dilansir Xinhua, Jumat (3/7/2020).

“Ini adalah temuan dari pengawasan yang telah dilakukan selama bertahun-tahun. Flu babi itu dinamakan G4 dan merupakan keturunan genetik H1N1,” sambungnya.

Michael mengungkapkan, bahwa virus flu babi H1N1 yang mirip burung Eurasia telah diawasi otoritas Cina dan oleh jaringan pengawasan influenza global di seluruh dunia, serta pusat-pusat kerja sama WHO.

“Virus ini sudah berada di bawah pengawasan sejak 2011 dan bahkan, publikasi terbaru merupakan publikasi dari semua data pengawasan selama ini dan dengan jelas melaporkan tidak hanya tentang evolusi virus tersebut dalam populasi babi, tetapi juga dalam hal paparan okupasi terhadap pekerja dari waktu ke waktu,” jelasnya.

Kendati demikian, kata Ryan, harus tetap selalu waspada dan terus melakukan pengawasan yang sangat baik pada genotipe G4 ini dan kami berharap hal itu akan terus berlanjut dalam beberapa bulan dan tahun mendatang.

“Ini pekerjaan yang sangat penting dilakukan di bawah kerja sama dengan pusat kolaborasi WHO di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Cina, serta pusat kerja sama lain di seluruh dunia, termasuk pusat kolaborasi WHO untuk influenza di CDC (AS) di Atlanta, dan sekali lagi menunjukkan betapa pentingnya sistem pengawasan dan respons influenza global,” tuturnya.

Menurut sebuah studi yang baru-baru ini diterbitkan oleh jurnal Amerika Serikat, Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS), Sebuah tim peneliti asal Cina telah meneliti virus influenza yang ditemukan pada babi dari 2011 hingga 2018, dan menemukan varian genotipe 4 virus H1N1 yang mirip burung Eurasia (G4 EA H1N1).

Dilaporkan South China Morning Post, G4 merupakan jenis flu babi yang tingkat infeksinya paling tinggi di antara jenis flu babi lain yang diteliti di Cina. Virus itu juga sudah menyebar ke manusia.

Berdasarkan tes peneliti, sudah ada 10,4 persen pekerja di industri babi sudah terinfeksi. Selain itu, 4,4 persen masyarakat sudah tertular.

Para peneliti masih belum menemukan bukti apakah flu babi jenis baru ini bisa menular antar manusia. Mereka khawatir ada penambahan risiko pandemi bagi manusia.

Kebanyakan virus flu babi itu adalah jenis baru. Peneliti lantas melakukan eksperimen ke hewan lain, seperti ferret (sejenis musang), untuk mengetahui dampak virus itu. Hasilnya, G4 tenyata yang paling berbahaya dan bisa menghasilkan gejala yang lebih serius.

Penulis: der
Editor: Ra
Sumber: fin.co.id




Pilkada Harus Aman Covid-19

  • Kamis, 06/08/2020 07:25:57 WIB
  • Dibaca: 884

JAKARTA – Pelaksanaan Pilkada Serentak akan digelar pada 9 Desember 2020 m mendatang. Semua persiapan terus d...