Milenial Makan Berawang!

Illustrasi
Share

jektv.co.id - Hallo generasi milenial Jambi, sebagai generasi dengan kemajuan teknologi yang pesat dan canggih, banyak diantara generasi milenial khusunya di Jambi tidak mengetahui apa itu ‘Makan Berawang’. Nah, penasaran bukan apa itu makan berawang? Langsung saja simak penjelasannya dibawah ini!

Sebelumnya kata Berawang berasal dari kata dasar ‘awang’ lalu mendapat imbuhan ber- yang kemudian menjadi berawang. Berawang sendiri menurut KBBI online memiliki arti:

1) Bersahabat, 2) Berjinak-jinakan: kedua orang itu tampaknya sudah mulai. Berdasarkan pengertian KBBI tersebut, berawang disini lebih dekat kita maknai dengan ‘bersahabat’. Namun, untuk ‘Makan Berawang’ disini tidaklah pas jika diartikan dengan ‘Makan Bersahabat’ melainkan di beberapa daerah di kota Jambi lebih memiliki arti ‘Makan bersama-sama’.

Jadi, ‘Makan Berawang’ merupakan kegiatan makan yang dilakukan secara bersama- sama, baik bersama keluarga, teman atau kerabat. ‘Makan Berawang’ juga merupakan Seni Budaya Tradisi kearifan lokal di Jambi, dimana mulanya ‘Makan Berawang’ sendiri sering dilakukan oleh orang-orang terdahulu di Jambi, tepatnya pada saat selesai berkebun atau berladang. ‘Makan Berawang’ identik dengan cara makannya yang terbilang sederhana dan praktis, yakni dengan menggunakan daun pisang yang dijajarkan memanjang sebagai alasnya dan tanpa peralatan makan seperti sendok ataupun garpu, melainkan langsung menggunakan tangan, serta dengan duduk saling berhadap-hadapan atau berdampingan. Juga dengan lauk pauk tradisional khas Jambi, seperti gulai tempoyak ikan patin, sambal calok (terasi), lahang jering, dan lain sebagainya. Dapat pula kita baca bersama pada salah satu postingan akun facebook yang bernama Jambi Karikatoer, yang berisikan cuitan tentang ‘Makan Berawang’.

“Enak nian lur e, makan berawang di umo, lauk gulai rebung campur belut, sambal terasi.. lalap pete, angin sepai-sepoi..waahhh ado pulak lahang jering..makan dak lur…@sambil mengulam [email protected]

Beberapa tahun lalu, tepatnya pada tanggal 22/11/2017 Gubernur Jambi Zumi Zola juga melakukan kegiatan ‘Makan Berawang’ bersama ratusan warga Jambi dalam acara Festival Batanghari River. Hanya saja sedikit berbeda karena makanan yang disajikan menggunakan nampan besar yang dideretkan memanjang. Bagusnya pada acara tersebut ‘Makan Berawang’ memanglah masuk ke dalam rangkaian acara guna mempertahankan Seni Budaya Tradisi kearifan lokal itu sendiri.

‘Makan Berawang’ adalah kegiatan yang sangat positif, karena merupakan ajang untuk saling mempererat tali silaturahmi yang tidak memandang status sosial. Namun kini,

dikalangan milenial 'Makan Berawang' sudah jarang dilakukan, karena adanya faktor ketidaktahuan mengenai 'Makan Berawang' itu sendiri juga banyaknya tempat-tempat makan yang kini jauh lebih kekinian dengan menu-menu makanan ala barat serta cara penyajiannya yang terbilang mewah. Disinilah pentingnya generasi milenial untuk mengetahui adanya Seni Budaya Tradisi kearifan lokal ‘Makan Berawang’ agar kelak dapat untuk terus dipertahankan dan dilanjutkan sebagai suatu identitas kebudayaan yang merupakan kegiatan positif dalam bersosialisasi juga mengedukasi.

Itulah salah satu budaya melayu Jambi yang perlu untuk diketahui generasi milenial kini. Salam budaya!

Penulis: Rks
Editor: Ra




Pilkada Aman Tiru Amerika

  • Selasa, 22/09/2020 07:56:03 WIB
  • Dibaca: 531

JAKARTA – Kemendagri sangat memperhatikan setiap saran dan masukan yang disampaikan oleh berbagai pihak. Demi...