COVID-19 Bermutasi Jadi D614G, Penularan Tertinggi Terjadi saat Libur Panjang

Illustrasi
Share

JAKARTA – Virus COVID-19 dilaporkan dapat bermutasi. Mutasi virus Corona ini disebut: D614G. Informasinya, D614G ini 10 kali lebih menular. Kasus ini sudah ditemukan di Malaysia dan Filipina. Diduga, mutasi tersebut juga sudah terjadi di Indonesia.

Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Profesor Amin Soebandrio, menjelaskan, ada 5 institusi di Indonesia yang sudah mengirimkan 22 whole genome sequence (WGS) terkait virus Corona. Dari 22 WGS tersebut, ada 8 WGS yang mengandung mutasi virus Corona D614G.

“Pertama dapat dilaporkan dari 22 WGS yang sudah disubmit oleh seluruh institusi di Indonesia. Ada 5 institusi. Yaitu dari Surabaya, Bandung, Yogyakarta, LIPI, dan Eijkman. Dari 22 WGS itu, ternyata ada 8 yang mengandung mutasi D614G,” ujar Amin dalam rapat bersama di Komisi IX DPR, Senin (31/8).

Menurutnya, saat ini pihaknya masih berusaha mengetahui seberapa jauh distribusi mutasi virus Corona D614G di Indonesia. Dari hasil penelitian diketahui ada 80 persen isolat Corona di dunia mengandung mutasi virus tersebut.

“Saat ini kami sedang berusaha mendapatkan whole genome baru untuk bisa mengetahui sebetulnya seberapa luas distribusinya di Indonesia. Sebagai informasi saja, di dunia sudah ada 70 persen atau 80 persen dari isolat Coronavirus di seluruh dunia yang mengandung mutasi D614G,” paparnya.

Sementara itu, Satgas Penanganan COVID-19 menyatakan ada penambahan kasus positif COVID-19 sebanyak 2.743. Berdasarkan data di situs Kementerian Kesehatan (Kemenkes), pada Senin (31/8), total jumlah kasus COVID-19 di Indonesia menjadi 174.796. Kemudian, pasien sembuh sebanyak 125.959. Sedangkan yang meninggal dunia 7.417 orang.

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito menjelaskan penularan kasus COVID-19 meningkat saat periode libur panjang atau long weekend pada 16 hingga 22 Agustus 2020.

“Mayoritas penambahan kasus baru, ketika dilacak terjadi di tanggal penularan 16 sampai 22 Agustus. Saat long weekend, tingkat penularannya cukup tinggi,” kata Wiku di Media Center Satgas Penanganan COVID-19 Jakarta, Senin (31/8).

Dia mengingatkan masyarakat tetap menjalankan protokol kesehatan dengan disiplin. Sebab, pandemi COVID-19 masih terjadi di seluruh dunia. Wiku juga menyoroti peningkatan konfirmasi positif COVID-19 di DKI Jakarta yang melonjak signifikan.

“Kondisi di DKI Jakarta, kasus cukup meningkat tajam selama beberapa waktu terakhir. Begitu pula dengan beberapa daerah di sekitar DKI selama empat minggu belakangan juga berrisiko tinggi,” imbuhnya.

Wiku juga menyebut tingkat kapasitas rumah sakit yang menampung pasien COVID-19 di DKI Jakarta juga sudah tidak ideal dan bisa berpotensi membebani tenaga kesehatan yang ada.

Pemerintah, lanjutnya, memastikan pengembangan vaksin di Indonesia dilakukan dengan sungguh-sungguh untuk menghasilkan vaksin yang bagus.

“Kami ingin memastikan kepada publik bahwa ketika pemerintah telah benar-benar melakukan vaksinasi, maka vaksin tersebut sudah melalui uji klinis dan memperoleh hasil yang bagus,” tegasnya.

Dalam upaya mendapatkan vaksin untuk menghentikan penyebaran wabah, Indonesia, kata Wiku, telah berhasil mengamankan komitmen dari sejumlah perusahaan. Termasuk dari Sinovac dan Sinopharm dalam pengadaan vaksin COVID-19 hingga 290 juta dosis vaksin. “Setiap proses pengembangan vaksin ini perlu melalui proses uji klinis sampai benar-benar memperoleh lisensinya,” papar Wiku.

Selama menunggu proses pengembangan vaksin, Wiku meminta pemerintah daerah, kementerian-lembaga, TNI-Polri, agar menjalankan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2020 untuk menegakkan hukum demi mendisiplinkan masyarakat menggunakan masker.

“Sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2020 tentang Peningkatan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan, menginstruksikan lintas kementerian lembaga, TNI-Polri, pemerintah daerah mengambil langkah penting untuk bisa menegakkan disiplin masyarakat. Mulai dari persuasif hingga denda dan sanksi,” terang Wiku.

Terpisah, Deputi bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan Kementerian PPN/Bappenas, Subandi Sardjoko memaparkan evaluasi terkait kapasitas dan kualitas pelayanan rumah sakit selama pandemi COVID-19.

“Evaluasi dilakukan selama Maret hingga Agustus 2020. Pertama terkait kapasitas tempat tidur dan ruang isolasi rumah sakit yang belum merata untuk pasien COVID-19,” jelas Subandi di Jakarta, Senin (31/8).

Selain itu, peralatan emergensi dan pelayanan intensif yang masih kurang di banyak rumah sakit masih ditemukan. Kemudian manajemen dan tata kelola kasus yang belum siap dalam menghadapi kondisi pandemi atau Kejadian Luar Biasa (KLB). Yang keempat terdapat disparitas pelayanan tenaga kesehatan khususnya spesialis antarwilayah.

Menurut Subandi, persoalan sistem rujukan pelayanan yang belum adaptif terhadap kondisi darurat nasional juga kerap terjadi. Dia menyebut hal itu perlu diperbaiki.

“Bappenas juga mengevaluasi kurangnya integrasi antarfasilitas pelayanan kesehatan antara Puskesmas, rumah sakit dan laboratorium dalam deteksi serta surveilans kasus. Ini beberapa isu yang masih harus kita tangani bersama. Koordinasi akan terus dilakukan,” urainya.

Koordinasi tersebut, lanjutnya, untuk melihat dan mengevaluasi apa saja yang harus diperkuat dalam menghadapi pandemi COVID-19 dan pascapandemi. Dia juga menyebut kapasitas daerah yang belum merata hingga kini. Terutama wilayah timur Indonesia. “Ini jauh lebih rendah dibandingkan Jawa,” pungkasnya.(rh/fin)

Penulis: rh
Editor: Ra
Sumber: fin.co.id




Cerah, Harapan Ratu Munawaroh Untuk Generasi Milenial

  • Rabu, 07/10/2020 17:04:05 WIB
  • Dibaca: 2402

JAMBI - Masa pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak bulan februari lalu tidak hanya dirasakan di Jambi, tapi juga di In...