Kurikulum Jenjang PAUD dan SD Disederhanakan

Kurikulum Jenjang PAUD dan SD Disederhanakan
Kurikulum Jenjang PAUD dan SD Disederhanakan
Share

JAKARTA – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melakukan penyederhanaan kurikulum untuk jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Dasar (SD).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim mengatakan, bahwa panduan pembelajaran untuk kurikulum yang disederhanakan ini melalui modul.

Modul belajar PAUD dijalankan dengan prinsip “Bermain adalah Belajar”. Proses pembelajaran terjadi saat anak bermain serta melakukan kegiatan sehari-hari.

Sementara itu, untuk jenjang pendidikan SD modul belajar mencakup rencana pembelajaran yang mudah dilakukan secara mandiri oleh pendamping baik orang tua maupun wali.

“Modul tersebut diharapkan akan mempermudah guru untuk memfasilitasi dan memantau pembelajaran siswa di rumah dan membantu orang tua dalam mendapatkan tips dan strategi dalam mendampingi anak belajar dari rumah,” kata Nadiem, dalam rakor bersama Kepala Daerah secara daring, seperti ditulis, Kamis (3/9)

Nadiem menjelaskan, bahwa pemberian modul ini atas pertimbangan banyaknya siswa PAUD dan SD yang tidak punya akses ke teknologi, seperti handphone dan komputer.

“Jadi ini modul-modul pembelajaran yang bisa dilakukan di dalam rumah tanpa teknologi dan dipandu orang tua. Modul tersebut fokus pada literasi, numerasi, pendidikan karakter dan kecakapan hidup bagi siswa PAUD dan SD,” terangnya.

Dengan mengikuti modul tersebut, kata Nadiem, sekolah sama saja telah menyelesaikan kompetensi dasar. Artinya, sekolah dinilai legal 100 persen mengikuti kurikulum nasional.

“Modul-modul ini disahkan oleh Kemendikbud sebagai kurikulum yang 100 persen legal, jadi silakan digunakan bagi semua guru dan kepala sekolah,” tegasnya.

Nadiem berharap, kehadiran modul tersebut mempermudah tugas guru untuk memfasilitasi dan memantau pembelajaran siswa di rumah. Terlebih, orang tua juga mendapat panduan yang spesifik dalam memandu anak belajar di rumah.

“Modul ini mengarahkan guru berbagi tugas tanggung jawab dengan orang tua. Karena instruksinya sudah jelas, dan ini bisa dilakukan di lingkungan rumah,” jelasnya.

Nadiem juga meminta, kerja sama semua pihak dapat terus dilakukan. Orang tua diharapkan dapat aktif berpartisipasi dalam kegiatan proses belajar mengajar di rumah, guru dapat terus meningkatkan kapasitas untuk melakukan pembelajaran interaktif, dan sekolah dapat memfasilitasi kegiatan belajar mengajar dengan metode yang paling tepat.

“Kerja sama secara menyeluruh dari semua pihak sangat diperlukan untuk menyukseskan pembelajaran di masa pandemi Covid-19,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Badan Penelitian Pengembangan dan Perbukuan Kemdikbud, Totok Suprayitno sebelumnya menjelaskan, bahwa pemerintah (Kemendikbud) memberi kebebasan pada sekolah dan satuan pendidikan memilih kurikulum yang sesuai kebutuhan.

Kebijakan ini tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 719/P/2020 tentang Pedoman Pelaksanaan Kurikulum pada Satuan Pendidikan dalam Kondisi Khusus.

“Alasan kurikulum disederhanakan karena siswa didik mengalami kesulitan belajar tanpa bimbingan guru secara fisik. Sekarang kita memberi opsi kurikulum yang sederhana sebagai pilihan bagi sekolah,” kata Totok.

Menurut Totok, kebijakan khusus berlaku bagi satuan pendidikan untuk menentukan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran peserta didik.

“Ada tiga pilihan bagi sekolah untuk melaksanakan pembelajaran, yakni tetap mengacu pada kurikulum nasional, menggunakan kurikulum darurat, atau melakukan penyederhanaan kurikulum secara mandiri,” terangnya.

Totok menjelaskan, bahwa kurikulum darurat dari Kemendikbud merupakan penyederhanaan dari kurikulum nasional. Ada pengurangan kompetensi dasar untuk setiap mata pelajaran sehingga guru dan siswa dapat berfokus pada kompetensi esensial dan kompetensi prasyarat untuk pembelajaran selanjutnya.

“Untuk mengurangi risiko hilangnya pengalaman belajar, Kemendikbud juga meluncurkan modul untuk SD dan PAUD,” ujarnya.

Hasil survei Kemendikbud menemukan anak usia sekolah dasar dan PAUD kesulitan belajar sendiri saat membaca dari buku teks. Sebab itu, Kemendikbud membuat materi ajar dalam bentuk modul yang lebih mudah oleh siswa, guru, dan orang tua.

Misalnya, modul belajar PAUD dijalankan dengan prinsip “Bermain adalah Belajar”. Proses pembelajaran terjadi saat anak bermain dan melakukan kegiatan sehari-hari.

“Contoh memasak, anak dapat belajar dari kegiatan itu. Setiap rumah tangga asumsinya ada kegiatan memasak. Atau aktivitas berkebun, itu semua bisa jadi pembelajaran,” ujar Totok.

Sedangkan modul belajar SD mencakup rencana pembelajaran yang mudah dilakukan secara mandiri oleh orang tua maupun wali. Namun, penerbitan modul yang lebih sederhana tidak boleh dianggap sebagai penyeragaman.

“Setiap sekolah dan PAUD boleh mengembangkan sendiri dengan berbaga aktivitas keseharian,” pungkasnya. (der/fin)

Penulis: der
Editor: Ra
Sumber: fin.co.id




Pilkada Aman Tiru Amerika

  • Selasa, 22/09/2020 07:56:03 WIB
  • Dibaca: 531

JAKARTA – Kemendagri sangat memperhatikan setiap saran dan masukan yang disampaikan oleh berbagai pihak. Demi...