Pria Tua di Seberang Jalanan

Illustrasi
Share

JEKTV.CO.ID - Pada dini hari pukul 3 pagi. Kupandang begitu lekat, pria tua itu tak sedikitpun beranjak.

Pria diseberang jalan itu masih tetap berada disana, ditempat yang sama. Duduk di kursi tepian jalanan, seorang diri.

Semilir angin dingin dini hari terus menerus melintas, tetap tak dihiraukannya.

“Apa itu menyerah? Aku hanya tahu apa itu menunggu.” Katanya,

Ia menunggu sesuatu yang tak kunjung—bahkan tak pasti akan pulang.

Selalu kulihat dirinya disana, setiap waktu. Ia tak kunjung beranjak dari tempatnya barang sedetik saja, terkecuali jika dirinya benar benar terdesak harus kembali.

Lalu kemarin, saat petang lalu, ia melintas dan akhirnya menyebrang setelah berbulan bulan lamanya tak beranjak kemanapun selain ditempat itu lalu pulang.

Aku selalu melihatnya, bukan mengawasi dengan alasan, namun apapun pergerakannya selalu masuk dalam pandanganku dikarenakan toko kue kecil milikku langsung berhadapan dengan kursi lintas seberang jalanan. Pemandangan yang menembus jendela kaca ruangan.

Mau tak mau, harus selalu melihatnya apapun yang kulakukan.

Bahkan sudah kuhafal diluar kepala bagaimana bentuk wajah dan pakaian sehari hari yang dipakainya, juga pergerakan paling sering yang dilakukannya walau hanya dapat memperhatikan dari jauh.

Aku ingin bertanya, mengajaknya mengobrol, namun merasa begitu tak enak hati.

Hingga kembali pada kisah petang lalu, aku cukup terkejut karena pada akhirnya ia memilih untuk menyebrang, menekan bel toko, dan mampir ke toko kue milikku. Tersenyum hangat seolah tak peduli dengan tatapan bingung orang orang yang biasanya selalu melihatnya ditempat yang sama.

Pedagang pinggir jalan maupun beberapa pejalan kaki yang selalu melewati lintas yang sama lainnya tak jarang mendekati dan mengajaknya berbicara, atau menyapanya dengan ramah. Cukup banyak jika kuperhatikan dalam beberapa bulan terakhir, namun tak seorangpun pernah berhasil membawanya beranjak kembali pulang sebelum pukul 3 pagi.

Beberapa orang tak peduli, beberapanya khawatir. Namun sempat kudengar, ia pernah menjawab seseorang yang bertanya dan menawarkan bantuan padanya dengan senyum yang hangat. “Janganlah khawatirkan pria tua ini, lanjutkanlah perjalananmu. Ia hanya ingin menunggu.”

Petang kemarin, ia beranjak selain pukul 3 pagi untuk pulang. Ia mengahampiri toko kue ku dan membeli sepotong roti, roti yang baru selesai kupanggang. Dengan asap yang masih mengepul, ia memilih itu. Roti paling rapi yang kutata petang ini.

Aku menyapanya dengan hangat, karena ini pertama kalinya aku berbicara dengannya dan bertingkah biasa seolah ini pertama kalinya aku melihatnya. Melayani sebagai pelanggan walau sesungguhnya aku amat ingin mengajaknya duduk bersama dan berbincang sedikit.

Bukan masalah khawatir, aku tahu jika aku bertanya, jawabannya pun akan sama seperti jawaban yang diterima orang orang yang pernah bertanya padanya.Pria tua ini sungguh hebat, aku ingin mendapat pelajaran baru. Aku ingin tahu apa yang ditunggunya hingga menjadi seperti ini.

Mungkin dapat dikatakan, aku penasaran padanya. Pada pria tua diseberang jalan.

Namun diluar kendali, saat ia nyaris pergi, aku menambahkan sepotong roti kesukaanku kedalam plastik belanjaannya. Dan entah dorongan dari mana, bibirku otomatis dengan tak dapat ditahan bertanya.

Bertanya dengan hal yang sama, pertanyaan yang dilontarkan semua orang yang sebelum sebelumnya padanya.

Aku merutuki diri, betapa bodohnya tak dapat mengendalikan diri.

Aku terkejut, karena yang kudengar bukanlah tolakan ringan. Namun masih dengan senyum hangat yang melengkung di gurat wajah tuanya, hingga matanya melengkung tertutup terlukis bagai sabit samar yang sudah mulai menampakkan diri di langit petang ini.

Melainkan sebuah jawaban yang dicari semua orang yang memperhatikannya selama ini.

“Karena pada pukul 3 pagi, aku kehilangan dirinya disana. Tak pantas aku pergi, tak pantas aku menyerah. Aku hanya pantas menunggu untuknya.”

Aku masih berusaha mencerna, karena seluruh pertanyaan dan kebingungan langsung datang bagai pesan yang menganggu kala menelaah setiap kata dari jawaban yang diberikan, membuat diri semakin penasaran dengan jawaban yang lebih pasti. Namun jawaban yang diberikannya hanya itu, tanpa penjelasan, seolah menyuruhku mencari tahu sendiri mengenai kisahnya, karena yang ia berikan hanya jawaban, bukan pertanyaan yang ditunggunya untuk dijawab selama ini.

Menjawab seperti itu lalu mulai melangkahkan kakinya untuk pergi, membuka pintu kaca toko dengan langkah kaki lambat yang sedikit terseok.

Hati hati, pak.”

Meski aku tak mendapatkan jawaban yang tidak kumengerti, atau belum, hanya itu kata yang dapat keluar dari bibirku—diantara otak dan batinku yang masih tengah mencerna setiap kata yang keluar dari bibirnya.

Ia membalas dengan senyum, lagi, dengan hangat. Seolah memberi tahu bahwa ia akan datang lagi dalam waktu yang sama.

Penulis: Raa Tsania




Mashuri Datang Sebagai Penantang Cik Bur Di Musda Partai Demokrat 2021

  • Kamis, 25/11/2021 10:09:42 WIB
  • Dibaca: 232

JAMBI - Teka-teki calon ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Jambi terungkap. Ini menyusul dari dua calon yang mencal...